Jam Biologis Manusia


Ergonomi berbicara mengenai desain sistem terutama sistem kerja agar sesuai dengan atribut atau karakteristik manusia (fit the job to the man). Salah satu atribut dan karakteristik yang dimiliki manusia adalah adanya ritme circadian di dalam tubuh manusia. Istilah circadian pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Franz Halberg, seorang berkebangsaan Jerman pada tahun 1959, untuk menjelaskan terjadinya perubahan fungsi-fungsi tubuh pada diri manusia. Istilah ini berasal dari bahasa latin, circa yang berarti ”sekitar” dan dies yang berarti “satu hari”. Jadi yang disebut circadian adalah perubahan fungsi-fungsi tubuh pada diri manusia yang terjadi dalam satu hari. Karena perubahan fungsi-fungsi tubuh tersebut mengikuti satu ritme tertentu, maka konsep circadian ini lebih dikenal dengan sebutan ritme circadian (circadian rhytm).

Tayyari dan Smith (1997) mendefinisikan ritme circadian sebagai proses-proses yang saling berhubungan yang dialami tubuh untuk menyesuaikan dengan perubahan waktu selama 24 jam. Senada dengan definisi tersebut, Rosa dan Colligan (1997) mendefinisikan ritme circadian sebagai suatu ritme tubuh yang ”ups” dan ”down” yang secara teratur dalam rentang waktu kurang lebih 24 jam. Fungsi-fungsi tubuh yang dimaksud antara lain suhu badan, tingkat metabolisme, kesiagaan, detak jantung, tekanan darah, pola tidur-bangun, kemampuan mental, dan komposisi kimia tertentu pada tubuh. Fungsi-fungsi tubuh tersebut akan meningkat atau sangat aktif pada siang hari tetapi akan menurun atau tidak aktif pada malam hari atau sebaliknya. Masa selama siang hari disebut sebagai fase ergotropic dimana kinerja manusia berada pada puncaknya, sedangkan masa malam hari disebut fase trophotropic dimana terjadi proses istirahat dan pemulihan tenaga.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa ritme circadian menjadi dasar fisiologis dan psikologis pada siklus tidur dan bangun harian. Ini berarti fungsi dan tahapan fisiologis dan psikologis memiliki suatu ritme yang tertentu selama 24 jam sehari, sehingga ritme circadian seseorang akan terganggu jika terjadi perubahan jadwal kegiatan seperti perubahan shift kerja. Dengan terganggunya ritme circadian pada tubuh pekerja akan terjadi dampak pada pekerja seperti gangguan gastrointestinal, gangguan pola tidur dan gangguan kesehatan lain.

Ritme circadian merupakan salah satu bentuk ritme biologis. Bentuk ritme biologis lainnya adalah ritme Ultradian dan ritme Infradian. Semua bentuk ritme biologis, termasuk ritme circadian, dipengaruhi oleh faktor internal (endegenous) dan eksternal (exogenous atau disebut dengan zeitgebers). Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu. Beberapa peneliti percaya bahwa pusat internal dari ritme ini terletak di suatu area di otak yang disebut suprachiasmatic nuclei (SCN), namun hal ini belum dapat dibuktikan secara ilmiah dan sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Faktor eksternal berhubungan dengan lingkungan natural di luar tubuh seperti siklus gelap-terang (siang-malam), suhu ruang, perubahan-perubahan musim, interaksi sosial dengan indivisu yang lain serta waktu/jam makan yang semuanya mempengaruhi siklus aktivitas fungsi-fungsi tubuh.

Karena ritme biologis ini berulang dalam rentang waktu kurang lebih 24 jam dan dipengaruhi oleh faktor eksternal terutama gelap-terang (siang-malam) dsb maka ritme atau pola atau irama atau siklus ini dapat dikaitkan dengan satuan waktu yakni jam sehingga ritme circadian juga sering disebut atau diasosiasikan dengan jam biologis tubuh manusia.

Jam Biologis Tubuh Manusia

Pernahkah Anda bertanya, mengapa saat malam kita mengantuk? Atau mengapa bila masyarakat pedesaan yang belum ada listrik cenderung tidur lebih cepat? Jawabannya adalah karena adanya hormon melatonin. SCN akan memerintahkan tubuh untuk sekresi hormon melatonin ini saat hari sudah gelap. Selanjutnya, hormon melatonin akan memerintahkan tubuh untuk beristirahat. Namun dengan kehadiran lampu listrik yang membuat suasana malam hari menjadi terang menghambat sekresi hormon melatonin, sehingga saat ini jam tidur manusia lebih larut malam daripada sebelumnya. Tubuh kita dapat beradaptasi sampai batasan tertentu. Misalnya, untuk pekerja yang bekerja saat malam hari, SCN akan beradaptasi sampai batas tertentu dalam sekresi hormon melatonin sehingga mereka akan tetap terjaga walaupun hari sudah gelap. Bila malam semakin larut, kita akan lebih merasakan kantuk, ini disebabkan hormon melatonin yang dihasilkan semakin meningkat dan juga turunnya suhu tubuh dan tekanan darah dalam tubuh. Naik turunnya aktivitas tubuh dalam sekresi hormone melatonin ini merupakan salah satu contoh dari jam bilogis (biological clock) atau ritme circadian tubuh manusia.

Contoh lainnya adalah saat pagi hari, minumlah segelas air hangat yang akan mendorong enzim-enzim yang ada dalam mulut ke dalam lambung untuk proses detoksifikasi. Tunggu 20 menit sebelum Anda mengkonsumsi sarapan atau minuman lainnya, karena bila waktu kurang dari 20 menit, manfaat yang dihasilkan kurang optimal. Olahraga pada jam 5 pagi kurang bermanfaat karena suhu tubuh masih rendah dan otot belum panas. Berolahragalah jam 7 pagi. Pada jam ini tubuh menghasilkan hormon serotonin yang meningkatkan mood. Berjemur di bawah sinar matahari pagi dapat meningkatkan produksi hormon ini. Tubuh kita berada dalam kondisi optimal 3 jam setelah bangun tidur. Saat itu, darah sudah mengaliri tubuh dengan sempurna sehingga semua zat yang dibutuhkan tubuh dapat terpenuhi dengan baik.

Contoh jam biologis tubuh lainnya lagi adalah saat tepat untuk perawatan kulit adalah jam 16.00 karena pada saat itu tubuh dalam suhu yang paling tinggi sehingga pori-pori terbuka dan nutrisi terserap sempurna. Jam 17.00 tubuh dalam kondisi puncak dalam menahan rasa sakit, sehingga tepat bila ingin ke dokter gigi atau di suntik. Jam 18.00 merupakan saat yang tepat untuk berolahraga, karena kekuatan dan fleksibilitas tubuh dalam kondisi puncak. Disebabkan kandungan glikogen pada saat itu di dalam tubuh cukup banyak. Glikogen merupakan simpanan karbohidrat dalam bentuk glukosa di dalam tubuh yang berfungsi sebagai salah satu sumber energi.

Contoh jam biologis tubuh manusia juga dapat dilihat dari proses detoksin pada tubuh manusia. Tubuh mempunyai waktu-waktu tertentu pada proses metabolisme sehingga membuat tubuh kita selalu sehat. Pada jam berapa sajakah organ-organ dalam tubuh kita melakukan proses metabolisme? Berikut rinciannya:

Pukul 21.00 – 23.00
Pada waktu ini adalah masa pembuangan zat-zat yang tidak berguna/beracun di bagian antibodi. Jadi sebaiknya pada jam ini tubuh harus rileks/santai, mungkin anda bisa mendengarkan musik sembari bersantai dengan memonton hiburan di televisi. Jangan melakukan pekerjaan sekecil apapun.

Pukul 23.00 – 01.00
Jam berikut adalah proses detoksin dibagian hati, yang mengharuskan kita untuk tidur pulas agar proses tersebut tidak mengalami gangguan. Itulah yang menyebabkan banyak orang yang menderita lever, dikarenakan proses detoksin mengalami gangguan. Jadi jangan terlalu sering begadang atau melakukan kegiatan yang mengganggu proses detoksin tersebut agar menjadi sehat.

Pukul 01.00 – 03.00

Setelah proses detoksin pada bagian hati maka proses detoksin akan berlanjut ke bagian empedu, seperti yang kita ketahui bahwa empedu adalah bagian dari organ tubuh kita yang menjadi tempat proses terakhir detoksin, serta disinilah zat-zat tidak berguna/racun berakhir.

Pukul 03.00 – 05.00

Proses detoksin berlanjut ke paru-paru, yang dapat menyebabkan batuk kepada para penderita batuk dikarenakan proses pembersihan sudah mencapai saluran pernapasan. Makanya kita sering mendengar orang batuk pada jam-jam tersebut. Jadi tanpa meminum obatpun sebenarnya batuk sudah terobati secara alami oleh proses detoksin, namun lain halnya pada penderita batuk tingkat akut.

Pukul 05.00 – 07.00
Proses detoksin berakhir pada bagian usus besar yang sering menyebabkan kita ingin buang air besar, untuk membuang sampah proses pencernaan makanan untuk menjadi feses.

Pukul 07.00 – 09.00

Untuk menjaga kesehatan agar selalu terjaga pastikan anda sarapan dipagi hari sebelum jam 07.30, karena pada jam ini adalah masa penyerapan gizi makanan di usus kecil. Itulah sebabnya kita dianjurkan untuk meminum segelas susu dipagi hari, tujuannya agar gizi yang terkandung didalam susu terserap sempurna oleh usus kecil untuk disuplai ke tubuh.

Berikut ini diberikan jam biologis fungsi tubuh manusia secara umum:

Pukul 01.00 – 02.00: Fase tidur paling lelap
Pada jam-jam tersebut, aktivitas berbagai sistem organ banyak yang diistirahatkan. Namun bagi yang hamil, produksi progesteron akan meningkat sehingga peluang untuk melahirkan pada tengah malam selalu lebih tinggi.

Pukul 04.00 – 05.00: Suhu tubuh paling rendah


Pukul 05.00 – 06.00: Peningkatan tekanan darah paling tajam
Produksi melatonin atau hormon yang memicu rasa kantuk mulai berhenti, sementara tekanan darah meningkat paling tajam dibandingkan waktu lainnya. Produksi kortisol atau hormon stres meningkat sehingga otak siap untuk bekerja seharian, namun peningkatannya tidak sampai memicu stres.

Pukul 07.00: Hormon seks meningkat
Peningkatan testosteron pada pria maupun wanita terjadi pada pagi hari, sehingga mampu membangkitkan gairah seks. Karena itu, pagi hari adalah waktu yang tepat untuk bercinta.

Pukul 08.00: Pergerakan usus meningkat
Jam ini cocok untuk buang air besar (BAB) pada pagi hari. Karena pada jam ini adalah proses alamiah, yakni terjadi pergerakan usus paling tinggi pada waktu tersebut. Pengukuran berat badan paling akurat dilakukan pada pagi hari setelah buang air besar.

Pukul 09.00: Metabolisme paling tinggi

Waktu yang tepat untuk sarapan pagi adalah sekitar pukul 9 karena ada peningkatan metabolisme. Artinya lemak-lemak yang diserap dari makanan pada waktu-waktu tersebut tidak akan banyak yang menumpuk.

Pukul 10.00 – 11.00: Kewaspadaan tinggi

Ibarat mesin diesel, tubuh dan pikiran sudah panas dan mencapai kondisi ideal untuk beraktivitas saat menjelang siang. Tingkat kewaspadaan tinggi, jarang ada yang mengantuk kecuali memang sedang kurang tidur.

Pukul 11.00 – 14.00: Stres meningkat
Jeda istirahat dibutuhkan untuk memberi kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk menyegarkan diri. Makan siang di luar bisa menyegarkan pikiran, sekaligus membiarkan tubuh terkena sinar matahari yang bisa memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Pukul 14.00 – 15.00: Koordinasi terbaik

Melakukan banyak hal sekaligus atau multitasking paling cocok dilakukan pada siang hari, karena kemampuan otak untuk melakukan koordinasi berada pada titik tertinggi. Di sisi lain, proses pencernaan makanan belum selesai sehingga kemampuan fisik agak berkurang.

Pukul 15.00 – 17.00: Denyut jantung paling stabil

Jika ingin berolahraga, sore hari adalah waktu paling tepat karena level adrenalin berada di level tertinggi. Selain itu, denyut jantung dan tekanan darah paling stabil sehingga cocok untuk melakukan aktivitas fisik.

Pukul 17.00 – 20.00: Proses pembuangan racun
Fungsi hati dalam memproses racun-racun sisa metabolisme paling tinggi pada sore hari, sehingga perlu didukung dengan minum air putih. Keinginan untuk ngemil juga tinggi karena kemampuan indra penciuman (hidung) dan perasa (lidah) meningkat.

Pukul 20.00 – 22.00: Metabolisme dan pergerakan usus berkurang
Karena aktivitas fisik berkurang, maka pembakaran energi tidak banyak terjadi di malam hari. Artinya jika makan di malam hari, maka cadangan energi yang disimpan dalam bentuk lemak juga akan semakin banyak.

Pukul 22.00 – 23.00: Hormon seks meningkat lagi

Dibandingkan pagi hari, peningkatan libido atau gairah seks pada malam hari tidak terlalu tinggi karena secara fisik sudah kelelahan. Namun peluang terjadinya ovulasi dan pembuahan paling tinggi pada hubungan seks malam hari menjelang tidur ketimbang pagi hari.
Keterangan: click gambar untuk memperbesar gambar

Ritme Circadian dan Shift Kerja

Dalam ergonomi atau perancangan sistem kerja, ritme circadian atau jam biologis paling banyak berhubungan dengan perancangan shift kerja. Shift kerja erat kaitannya dengan ritme circadian terutama untuk shift kerja malam. Manusia tidak ideal untuk bekerja pada malam hari karena mempengaruhi perubahan ritme circadian dimana mempengaruhi fungsi fisiologis yang berhubungan dengan kapasitas performance kerja. Fungsi fisiologis tubuh berubah dalam 24 jam, dalam waktu yang bersamaan fungsi tubuh tersebut tidak dapat bekerja secara maksimum ataupun minimum. Pada umumnya fungsi tubuh meningkat pada siang hari dan melemah pada sore hari dan menurun pada malam hari untuk melakukan pemulihan dan pembaharuan (Silaban, 2000 ; Astrand & Rodahl, 1986). Selain itu terdapat kecenderungan melalui timbulnya rasa kantuk pada waktu-waktu tertentu, tidak perduli sudah tidur atau belum-lebih banyak belum. Perasaan paling mengantuk pada saat jam-jam di awal pagi hari (02.00-07.00) dan lebih kurang saat siang hari (14.00-17.00). pada saat ini microsleeps dapat berakibat pada keacuhan, mudah lupa, dan penyakit hilang ingatan yang lain (Nurmianto, 2004). Penelitian menunjukkan bahwa kerja shift (kerja malam) merupakan sumber utama dari stress bagi para pekerja pabrik (Monk dan Tepas, 1985). Ketidakcocokan antara waktu kerja dengan ritme circadian ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan, keselamatan kerja, dan aspek sosial, antara lain:
  • Kelelahan kronis, yaitu perasaan lelah yang sangat hebat yang kemudian dapat menyebabkan terjadinya penyakit lain serta penurunan motivasi kerja. Selain itu, gangguan ini juga menyebabkan terjadinya penurunan selera makan
  • Masalah gastrointestinal (pencernaan), seseorang yang bekerja pada malam hari memiliki kecenderungan unutuk menderita gangguan pencernaan. Hal ini disebabkan adanya ritme circadian yang turun naik sehingga menciptakan kesulitan pada lambung untuk mencerna makanan pada malam hari.
  • Meningkatkan risiko penyakit jantung. Seseorang yang bekerja pada shift malam biasanya mengkonsumsi makanan rendah gizi, kebiasaan merokok meningkat serta tekanan-tekanan pada jantung akibat aktivitas berat di malam hari.
Tipe Ritme Circadian

Ritme circadian untuk setiap individu berbeda. Ada individu yang merasa lebih aktif dan siaga pada siang hari dan ada yang merasa lebih aktif dan siaga pada malam hari. Pola yang bersifat individu ini disebut chronotype atau tipe circadian dan ini bersifat alamiah. Artinya, individu dapat lahir dengan kecenderungan tipe circadian tertentu yang tidak mudah berubah, namun dalam batas-batas tertentu mampu melakukan adaptasi. Kemampuan adaptasi ini dapat dilihat pada saat seseorang melakukan perjalanan yang melintasi beberapa zona. Pada saat ia kembali di tempat tujuan untuk beberapa saat ia akan mengalami ketidakseimbangan yang dikenal dengan istilah jet lag. Menurut Eastman Kodak Company (1986) dibutuhkan waktu antara 1 – 2 hari untuk menyesuaikan kembali ritme circadian individu dengan lingkungan alamiah di sekitarnya.

Ada dua tipe circadian, yaitu tipe siang (Morningness) dan tipe malam (Eveningness). Individu yang termasuk kategori tipe siang (yang sering disebut dengan Larks) adalah individu yang ritme circadiannya kuarang lebih 2 jam lebih cepat/awal daripada ritme circadian populasi individu secara keseluruhan. Mereka pada umumnya bangun sekitar pukul 04.00 – 06.00 pagi dan tidur pada pukul 20.00 – 22.00 malam. Sedangkan individu yang termasuk kategori malam (yang sering disebut dengan istilah owls) adalah individu yang ritme circadiannya kuarang lebih 2 jam lebih lambat daripada ritme circadian populasi individu secara keseluruhan. Mereka umumnya bangun sekitar pukul 08.00 – 10.00 pagi dan baru tidur sekitar pukul 24.00 tengah malam – 02.00 pagi.

Perbedaan waktu tidur-bangun antara tipe siang dan tipe malam sangat jelas terlihat pada saat libur. Orang-orang tipe malam akan bangun lebih siang daripada orang-orang tipe siang. Tetapi dalam hal lama tidur, tidak ada perbedaan diantara kedua tipe tersebut.

Selain berbeda dalam waktu tidur-bangun, tipe siang dan tipe malam juga berbeda dalam hal tingkat tingkat tinggi atau rendahnya kesiagaan individu. Tingkat kesiagaan tertinggi tipe siang terjadi sekitar pukul 10.00 siang dan terendah pukul 04.00 pagi, sedangkan tipe malam, tingkat kesiagaan tertinggi terjadi sekitar pukul 14.00 siang dan terendah sekitar pukul 08.00 pagi. Perbedaan kesiagaan ini penting untuk diperhatikan karena jika individu bekerja dalam keadaan kuarang siaga, maka ia akan mudah membuat kesalahan bahkan dapat menimbulkan kecelakaan verja.

Beberapa studi tentang toleransi terhadap kerja shift malam menemukan bahwa mereka yang termasuk tipe siang akan lebih sensitif terhadap mundurnya jam tidur malam, karena jangka waktu (lamanya) tidur malam menjadi lebih singkat. Ditemukan adanya penurunan tingkat kesegaran (fitness) setelah kerja shift malam. Kelompok tipe siang juga menunjukkan ketidakpuasan kerja terhadap kerja shift malam dibandingkan dengan tipe malam dan lebih sering mengalami gangguan pencernaan dibandingkan dengan tipe malam.

Dalam hubungannya dengan penyesuaian diri ditemukan bahwa tipe circadian ini merupakan prediktor dari keberhasilan sistem kerja shift rotasi. Studi longitudinal tentang dampak fisik dan psikososial dari sistem kerja shift rotasi mengungkapkan bahwa tipe siang lebih sering mendapat kesulitan dengan jadwal kerja yang mencakup kerja malam dan ditemukan pula adanya ketidakseimbangan menyesuaikan diri pada kelompok tipe siang dan kelompok netral. Sebaliknya ditemukan proporsi yang besar dari tipe malam yang stabil dan “adjusted”.

Salah satu faktor yang mempengaruhi ritme circadian dan pola tidur-bangun adalah usia. Sejalan dengan bertambahnya usia biasanya antara 40 – 45 tahun, terjadi perubahan pada jam biologis internal yang mempengaruhi koordinasi antara beberapa fungsi tubuh seperti suhu badan, siklus tidur-bangun dan tingkat hormon. Perubahan ini menyebabkan tidur menjadi mudah terganggu terutama pada malam hari.

Menurut Koller, usia kritis bagi pekerja shift adalah usia 40 – 50 tahun. Pada usia tersebut, penyesuaian circadian (terhadap kerja shift) menjadi lebih lambat dibandingkan dengan pekerja shift yang berusia lebih muda. Hal ini menandakan bahwa pekerja shift pada usia 40 – 50 tahun memerlukan waktu yang lebih lama dalam melakukan adaptasi terhadap kerja shift. Selain itu, tingkat kepuasan terhadap sistem kerja shift rotasi paling rendah ditemukan pada kelompok usia 41 – 50 tahun.

*Disarikan dari berbagai sumber

Penyatuan Zona Waktu Indonesia dan Jam Biologis Manusia


Beberapa waktu yang lalu marak dibicarakan mengenai rencana penyatuan zona waktu di Indonesia. Indonesia yang saat ini memiliki 3 pembagian zona waktu yakni WIB, WITA, dan WIT rencananya akan disatukan denga mengacu standar waktu WITA (waktu Indonesia bagian tengah). Tujuan rencana ini adalah untuk memudahkan dan menyederhanakan serta menyeragamkan waktu di seluruh Indonesia yang konon akan sangat amat menguntungkan negara sampai trilyunan. Sikap masyarakat terhadap rencana ini berbeda-beda, ada yang menyikapinya dengan positif (pro) dan ada yang menyikapinya dengan negatif (kontra). Bagi yang pro berpendapat bahwa rencana ini memang sangat menguntungkan dan walaupun butuh penyesuaian bagi masyarakat yang tinggal di WIB dan WIT namun mereka beropini bahwa penyesuaian itu akan cepat berlalu. Bagi yang kontra berpendapat bahwa rencana ini belum tentu menguntungkan mengingat sistem yang kena dampak akan banyak dan proses transisi juga mungkin memakan banyak sumber daya selain itu mereka juga beropini bahwa proses penyesuaian bagi masyarakat yang tinggal di WIB dan WIT akan sangat berat dan keselanjutannya juga akan memberatkan mereka.



Rencana penyatuan zona waktu ini sedikit banyak memiliki kesamaan dengan shift kerja. Keduanya sama-sama waktu ‘buatan’ manusia dan melawan atau tidak sesuai dengan jam biologis manusia atau ritme circadian yang notabene ‘alamiah’. Jika berdasarkan jam biologis manusia maka ada jam-jam atau waktu-waktu tertentu yang pas untuk manusia itu melakukan sesuatu. Misalnya pada pukul 21.00 – 23.00 adalah masa pembuangan zat-zat yang tidak berguna/beracun di bagian antibodi. Jadi sebaiknya pada jam ini tubuh harus rileks/santai. Begitu pula dengan bekerja ada jam tertentu di pagi hari yang sangat pas untuk memulai kerja. Perlu diingat bahwa penunjukan angka waktu pada jam biologis seperti contoh pukul 21.00 – 23.00 di atas itu hanya agar mudah dipahami, waktu yang digunakan sebenarnya adalah berdasarkan waktu alam yang menggunakan faktor lingkungan terutama sinar. Jadi jika kita menyebut pukul 06.00 untuk saat ini maka angka tersebut sesuai dengan waktu alam baik untuk WIB, WITA, dan WIT karena secara umum di pukul 06.00 di ketiga wilayah tersebut menunjukkan waktu alam = waktu matahari mulai terbit. Namun jika rencana penyatuan zona waktu Indonesia diterapkan nantinya pukul 06.00 untuk Indonesia berarti waktu alam untuk seluruh bekas WIB, WITA, dan WIT itu berbeda, nantinya pukul 06.00 di WIB mungkin waktu alamnya masih waktu subuh, pukul 06.00 di WITA mungkin waktu alamnya adalah waktu matahari mulai terbit, sedangkan pukul 06.00 di WIT mungkin waktu alamnya adalah waktu matahari akan mulai naik / terik.

Kembali pada kasus jam kerja malam pada sistem shift ‘memaksa’ manusia untuk bekerja disaat sebenarnya jam biologis tubuhnya lebih tepat untuk istirahat atau pemulihan. Akibatnya sering timbul masalah keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan bahkan berpengaruh ke produktivitas. Hampir mirip dengan sistem shift kerja, rencana penyatuan zona waktu juga sebenarnya melawan jam biologis tubuh manusia walaupun tidak seekstrim pada sistem shift kerja. Pada rencana penyatuan zona waktu Indonesia ini, masyarakat yang tinggal di wilayah WIB akan memulai aktivitasnya lebih pagi dari sebelumnya. Maksud lebih pagi disini adalah misalnya sekolah yang tadinya masuk jam 7 yang tadinya sudah terang mungkin jadi masuk tetap jam 7 tapi hari masih agak gelap (mungkin sesaat setelah subuhan harus segera berangkat sekolah). Sedangkan masyarakat yang tinggal di wilayah WIT akan memulai aktivitasnya lebih siang dari sebelumnya. Maksud lebih siang disini adalah misalnya sekolah yang tadinya masuk jam 7 yang tadinya masih adem mungkin jadi masuk tetap jam 7 tapi sudah agak terik. Hal-hal seperti ini mengakibatkan waktu kerja atau aktivitas tidak cocok dengan dengan jam biologis manusia. Perumpamaan seandainya saja waktu atau jam biologis optimal bagi tubuh manusia untuk masuk sekolah adalah saat matahari sudah terang namun belum terik maka jika rencana penyatuan zona waktu diterapkan hanya masyarakat di wilayah WITA lah yang akan menikmatinya sedangkan masyarakat di wilayah WIB dan WIT waktu aktivitasnya tidak cocok dengan jam biologis.



Masih belum diketahui apakah rencana penyatuan zona waktu semacam ini yang melawan waktu alami atau jam biologis ini akan sangat berpengaruh pada manusia itu atau tidak mengingat perubahan waktunya tidak seekstrim pada shift kerja. Namun bagaimana pun juga hal ini perlu diperhatikan karena apa saja yang ‘melawan’ alam pasti akan ada dampaknya walaupun masih belum diketahui akan sebesar apa dampaknya. Belum lagi adanya proses transisi jika rencana ini diterapkan yang memungkinkan timbul keadaan semacam jetlag akibat perlawanan jam biologis bagi warga WIB dan WIT walaupun sebenarnya juga belum diketahui juga sebesar apa dampaknya. Jam biologis manusia memang diketahui dapat beradaptasi namun adaptasi atau penyesuain tersebut juga memiliki batas.

Hal yang terbaik adalah sesuai dengan prinsip ergonomi adalah ‘fit the job ti the man’ atau ‘fit the task to the worker’ yang maksudnya seharusnya sistemlah yang harusnya disesuaikan dengan keadaan manusia dan bukan manusia yang harus menyesuaikan ke sistem. Jika memang mau mencontoh negara-negara maju seperti AS dan Australia, mereka juga masih memakai pembagian zona waktu di negaranya. Namun sekali lagi hal ini masih perlu diteliti dan dikaji lebih lanjut.

Seperti disebutkan pada paragraf pertama, terdapat perbedaan sikap pada rencana penyatuan zona waktu ini, ada yang positif dan ada yang negatif. Sikap masyarakat terhadap rencana perubahan waktu ini sebenarnya juga bisa diasosiasikan dengan sikap pekerja terhadap sistem kerja shift yang sudah banyak diteliti. Sikap pekerja terhadap sistem kerja shift rotasi juga dapat bersifat positif ataupun negatif. Pekerja bersikap negatif antara lain karena sistem kerja shift rotasi menimbulkan gangguan tidur, pola makan menjadi tidak baik dan kehidupan sosial terganggu. Di sisi lain, pekerja yang bersikap positif beranggapan bahwa sistem kerja shift rotasi dapat meningkatkan pendapatan, memberikan lebih banyak waktu luang pada siang hari, memberikan lingkungan kerja yang sepi, jumlah supervisor lebih sedikit, dan dapat dijadikan sebagai alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Menurut Nachreiner (dalam Golec, 1993), indikator dari sikap terhadap sistem kerja shift rotasi adalah aspek positif dan negatif dari sistem kerja shift tersebut. Aspek positifnya adalah peningkatan keuangan dan lingkungan kerja yang sepi, sedangkan aspek negatifnya adalah peningkatan ketidakhadiran kerja, gangguan kesehatan dan masalah sosial. Di sisi lain, Rosa dan Colligan (1997) mengatakan bahwa aspek positif dari sistem kerja shift rotasi adalah peningkatan pendapatan serta mempunyai banyak waktu di siang hari, sedangkan aspek negatifnya adalah gangguan tidur, masalah produktivitas dan keselamatan kerja, gangguan kehidupan keluarga dan hubungan sosial, serta gangguan kesehatan (fisik dan psikis). Hal ini sangat mirip dengan sikap masyarakat Indonesia terhadap rencana penyatuan zona waktu seperti yang telah disebutkan di paragraf pertama dimana yang positif (pro) lebih karena alasan keuntungan atau uang sedangkan yang negative (kontra) lebih karena alasan memberatkan manusia.

Perbedaan sikap pada shift kerja ada hubungannya dengan tipe kepribadian. Pekerja yang memiliki kecenderungan extravert diduga menunjukkan sikap yang positif terhadap sistem kerja shift rotasi. Mereka lebih toleran terhadap sistem kerja shift tersebut dibandingkan dengan tipe introvert (Vidazek, dalam Harma 1993). Sebaliknya, pekerja dengan kecenderungan introvert diduga menunjukkan sikap yang negatif terhadap sistem kerja shift rotasi. Toleransi mereka terhadap sistem kerja shift tersebut lebih rendah dibandingkan tipe extravert. Oleh karena itu, sikapnya diduga cenderung negatif. Selain tipe kepribadian, prediktor dari sikap terhadap sistem kerja shift rotasi adalah tipe circadian yaitu tipe siang dan tipe malam (sekali lagi selengkapnya klik disini). Mereka yang termasuk tipe malam mempunyai toleransi yang lebih baik terhadap sistem kerja shift rotasi, dibandingkan dengan mereka yang termasuk tipe siang. Oleh karena itu, diduga mereka yang tergolong tipe malam memiliki sikap yang positif terhadap sistem kerja shift rotasi.

Berkaitan dengan sikap masyarakat yang positif / pro (alasan keuntungan) dan negatif / kontra (alasan memberatkan manusia) ini ada hal yang perlu diingat bahwa banyak perusahaan yang lebih suka menerapkan langkah-langkah yang menurut mereka lebih menguntungkan seperti tidak memprioritaskan penyelanggaraan K3 karena bagi mereka K3 itu pemborosan dan banyak contoh lainnya selain K3. Namun kebanyakan dari langkah tersebut ternyata justru banyak yang merugikan. Hal ini terbukti bahwa perusahaan-perusahaan seperti itu banyak yang tidak maju dan tidak berkembang. Sebaliknya perusahaan-perusahaan yang sangat care terhadap karyawannya dan menganggap karyawannya adalah sebagai manusia seutuhnya dan bukan sebagai komoditas, mereka ‘tidak pelit’ dengan program-program semacam K3 dsb dan justru perusahaan-perusahaan seperti inilah yang saat ini banyak maju dan berkembang. Jadi sebenarnya cukup jelas kan langkah mana yang sebenarnya terbukti menguntungkan dan mensejahterakan.

Aspek Fisik dan Mental Tubuh Manusia


Ergonomi dan K3 adalah bidang-bidang yang berorientasikan pada manusia karena manusia merupakan pusat dari suatu sistem dalam hal ini sistem kerja. Lalu sebenarnya manusia itu apa? Jika dijelaskan deskripsi apa itu manusia maka penjelasannya akan sangat panjang dan sangat beraneka ragam. Yang menjadi fokus pada tulisan kali ini bukan deskripsi rinci manusia ditinjau dari segala bidang. Yang ditekankan di tulisan ini adalah bahwa manusia memiliki dua aspek dalam tubuhnya, yakni aspek fisik dan mental. Dari dua aspek ini sebenarnya sudah dapat menjelaskan apa itu manusia.



Aspek Fisik Manusia

Aspek atau ciri-ciri fisik manusia merupakan bagian dari tubuh manusia yang tampak kasat mata. Kepala, kulit, hidung, rambut, tangan, punggung, tulang, sel dll merupakan bagian dari tubuh manusia yang tampak secara fisik. Ukuran-ukuran manusia baik yang statis seperti tinggi badan, berat badan, lingkar perut, warna kulit, bentuk muka, jarak pandang mata, atau yang dinamis seperti kecepatan berlari, jangkauan tangan dan sejenisnya merupakan ukuran dari aspek fisik manusia.

Aspek Mental Manusia


Aspek atau ciri-ciri mental manusia merupakan bagian dari tubuh manusia yang tidak kasat mata atau tidak tampak secara fisik. Walaupun tidak tampak secara fisik, aspek mental berkaitan erat dengan fungsi dari fisik manusia seperti syaraf dan otak sebagai pusat sistem syaraf. Aspek ini juga sering disebut kognisi / kognitif dan dikaitkan dengan intelektual, kesadaran, pikiran, persepsi, pembelajaran dan bahkan termasuk emosi. Untuk emosi, beberapa pihak tidak menggolongkannya ke dalam aspek mental, namun disepakati bahwa emosi dipengaruhi mental dan memiliki kesamaan dengan kecerdasan, persepsi dan lainnya yakni sama-sama bersumber dari otak, jadi secara kasar disini emosi bisa disebut masuk dalam aspek mental. Ukuran-ukuran manusia seperti IQ (kecerdasan, ketelitian, daya tahan stres), EQ, dan sejenisnya merupakan ukuran dari aspek mental manusia. 

K3 dan Aspek Fisik dan Mental Tubuh Manusia

Jika dikaitkan dengan keselamatan dan kesehatan kerja maka manusia dikatakan selamat atau sehat tidak hanya secara fisik namun juga secara mental. Dan jika prinsip ergonomi yakni “fit the task to the person” dipakai maka kondisi kerja selain harus disesuaikan dengan fisik pekerja juga harus disesuaikan dengan mental pekerja, karena inilah terdapat bidang ergonomi kognitif yang membahas masalah keselamatan dan kesehatan kerja diluar ergonomi fisik. Namun kelihatannya aspek mental pekerja belum banyak diperhatikan, mayoritas K3 lebih fokus ke aspek fisik manusia.

Ketika pekerja terjepit, terpeleset, terkena bahan kimia, tersetrum, kejatuhan, MSD atau lain-lain sejenisnya maka yang paling terlihat adalah luka atau penyakit secara fisik. Namun ketika orang diberi beban kerja kantor yang tinggi, dimarahi-marahi atasan, di-bully, diberi pekerjaan diluar kemampuan kecerdasannya atau lain-lain sejenisnya maka luka yang dirasakan adalah luka mental dan tidak terlihat oleh mata. Bahaya-bahaya kerja yang lebih bersifat mental seperti ini kita kenal dengan hazard psikososial.

Note (pendapat saya): Banyak orang menyamakan fisik manusia dengan raga atau jasad, namun saya tidak menyebut aspek fisik sebagai raga atau jasad karena aspek mental bagi saya juga merupakan bagian dari raga atau jasad atau merupakan penjewantahan dari fungsi aspek fisik yakni fungsi otak, gen, saraf dll. Jika berbicara mengenai konteks raga atau jasad maka padanannya adalah ruh, ketika tubuh manusia itu mati maka aspek fisik akan hilang dan begitupula aspek mentalnya hilang namun ruh tidak mati. Jadi jangan juga samakan mental dengan ruh / jiwa / spirit walaupun di kalangan umum banyak disamakan. Dan ruh atau jiwa tidak dibahas disini.